Kesehatan Hewan untuk Kesejahteraan Manusia

Menjamin kesehatan hewan berarti menjamin kesehatan manusia secara tidak langsung, karena manusia dan hewan adalah dua makhluk yang tak pernah terpisahkan dan saling membutuhkan sejak dahulu kala, kini maupun esok.

Search in This Blog

Selasa, 20 Desember 2011

Orf / Sore Mouth Disease / Contagious Ecthyma / Contagious Pustular Dermatitis

Orf atau Sore Mouth Disease adalah infeksi viral yang disebabkan oleh Poxvirus yang terkait dengan Famili Pseudocowpox dan Bovine Papular Stomatitis Virus.

Virus ini bersifat epitheliotropik, yang berarti bahwa virus ini memiliki affinitas terhadap kulit. Masa inkubasi relatif singkat. Hewan peka biasanya menunjukkan gejala pertama 4 hingga 7 hari setelah terpapar, dimana gejala ini bertahan selama 1 hingga 2 minggu atau mungkin lebih lama. Penyakit ini menyerang domba dan kambing.

Orf merupakan penyakit zoonosis yang berarti bahwa penyakit ini dapat dengan mudah ditularkan dari hewan ke manusia. Orf menginduksi lesi pustular pada kulit kambing, domba dab ruminansia liar di seluruh dunia. Hewan muda paling peka terhadap penyakit ini.

Gejala

Penyakit Orf awalnya berupa papula yang berkembang menjadi lepuh atau pustula sebelum mengerak (encrusting). Lesi ditemukan pada kulit daerah bibir. Lesi-lesi tersebut menyebar di luar dan di dalam mulut, wajah, bibir, telinga, vulva, ambing, scrotum, puting dan kaki, biasanya di daerah interdigitalis. Lesi yang ekstensif pada kaki dapat menyebabkan kelumpuhan pada hewan dewasa maupun hewan muda.

Selama proses penyakit (1 hingga 4 minggu), kerak terkelupas dan jaringan sembuh tanpa timbul luka parut. Kadang, kerak menyimpan bakteri sekunder (seperti Staphylococci) atau mengundang infestasi ektoparasit (larva). 

Penularan 

Virus penyebab Orf ditularkan ke hewan peka melalui kontak langsung. Virus melakukan penetrasi melalui kulit yang abrasi atau luka. Bahkan dengan sedikit luka saja dapat menyebabkan virus masuk. Abrasi yang kadang-kadang disebabkan oleh pakan biasanya menjadi predisposisi terjadinya infeksi. Hewan carrier atau hewan yang telah terinfeksi kronis juga dapat bertindak sebagai reservoir infeksi. Orf dapat disebarkan melalui peralatan, pakan dan litter kandang.

Ketika hewan muda belum pernah terpapar dengan virus ini dan karena sistem imun masih berkembang, maka hewan-hewan muda tersebut paling peka terhadap Orf. Hewan yang sembuh dari infeksi alami memiliki kekebalan terhadap infeksi yang sama. 

Namun terdapat strain Orf yang berbeda-beda, dan dimungkinkan bagi hewan yang pernah terinfeksi untuk terinfeksi kembali. Jika terjadi infeksi ulangan, maka biasanya terjadi beberapa tahun kemudian dan cenderung memiliki tingkat keparahan yang lebih rendah dari infeksi sebelumnya. 

Diagnosis
 
Diagnosis berdasarkan pada sifat dan lokasi lesi, serta riwayat wabah sebelumnya. Diagnosis definitif berdasarkan pada isolasi virus dan uji immunologis. 

Pengobatan

Lesi dapat ditangani dengan pemberian larutan iodine 3 %. Hewan sembuh secara spontan pada kebanyakan kasus. Pada kasus infeksi bakteri sekunder yang akut, penggunaan antibiotik sistemik direkomendasikan. Penting juga untuk mengobati lesi pada puting untuk mencegah perkembangan mastitis. 

Sumber : 
  1. http://www.sheepandgoat.com/articles/soremouth.html
  2. http://www.cdc.gov/ncidod/dvrd/orf_virus/
  3. Lestari, SM. 2010. Orf pada Kambing dan Domba. Publikasi Budidaya Ternak Ruminansia ed. 1 (2010). Direktorat Kesehatan Hewan
  4. Leite-Browning, M. 2008. Contagious Ecthyma (Orf/Sore Mouth) in Sheep and Goats. Alabama A&M and Auburn Universities : Alabamba

Minggu, 04 Desember 2011

Gangguan Reproduksi Sapi : Prolaps Uteri

Tahun-tahun ini sedang digalakkan Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau (PSDSK) 2014. Program Nasional ini bertujuan untuk menjaga ketersediaan daging sapi di Indonesia tanpa ketergantungan dari impor (walupun untuk menjadi swasembada daging, masih tetap impor daging dengan persentase < 10% dari kebutuhan daging nasional).

Berbagai tantangan kemudian muncul di tengah-tengah upaya pencapaian target tersebut. Salah satu yang paling menjadi perhatian dan menjadi dasar bagi keberhasilan Program ini adalah kesehatan reproduksi sapi. Untuk meningkatkan populasi sapi (potong) di Indonesia, diperlukan betina-betina yang produktif dengan kondisi saluran dan organ reproduksi yang normal dan baik.

Salah satu gangguan reproduksi pada sapi yang sering dijumpai di lapangan adalah prolaps uteri. Prolaps uteri adalah keluarnya uterus, vagina dan servik, menggantung keluar melalui vulva (Litbang Deptan). Kondisi ini sering terjadi paling umum pada sapi dan domba (The Merck Veterinary Manual). Pada sapi dan domba, kondisi ini biasanya terlihat pada betina dewasa yang sedang bunting trimester akhir. Faktor predisposisinya termasuk tekanan intra-abdominal yang meningkat, terkait dengan peningkatan ukuran uterus yang berisi fetus, selain itu adanya lemak intra-abdominal, atau distensi rumen yang cenderung berada di atas selama relaksasi dan melemahnya lingkar pelvis serta struktur jaringan lunak terkait di sekitar saluran pelvis dan perineum yang diperantarai meningkatnya konsentrasi estrogen dan relaxin selama kebuntingan akhir. Tekanan intra-abdominal meningkat pada hewan yang rebah (The Merck Veterinary Manual).

Prolaps uteri juga sering terjadi segera atau beberapa jam setelah melahirkan. Kesulitan melahirkan yang menyebabkan iritasi atau kelukaan saluran kelahiran eksternal dan tekanan berlebih yang diberikan ketika menarik pedet dapat menyebabkan juga prolaps uteri. Tonus uteri yang lemah atau masalah nutrisi dengan kadar kalsium darah yang rendah juga dapat meningkatkan kejadian prolaps uteri. 

PENANGANAN
Prolaps uteri adalah situasi gawat darurat, dan sangat penting untuk segera ditangani. Penanganan pertama yang dapat disarankan kepada peternak adalah hewan ditempatkan di kandang dengan kemiringan 5 –15 cm lebih tinggi di bagian belakang. Kemudian dokter hewan atau mantri hewan akan menangani dengan cara organ yang mengalami prolaps dicuci dan di bilas, dan kandung kemih dikosongkan jika perlu. Biasanya, pengosongan dapat dilakukan dengan mengangkat organ yang prolaps untuk memungkinkan urethra menjadi lurus. Secara medis dapat dilakukan dengan reposisi ke posisi semula, irigasi (pemasukan dilanjutkan dengan pengeluaran) menggunakan Iodine Povidone 1%. Setelah semua organ masuk kembali, dilakukan penjahitan pada vulva menggunakan teknik Buhner. 

PENCEGAHAN
Dengan prolaps vagina, sangat penting untuk menjaga kondisi tubuh sapi agar tidak memiliki lemak yang berlebih selama trimester akhir kebuntingan. Jika pedet besar merupakan kemungkinan penyeba prolaps, maka gunakan pejantan dengan berat lahir rendah pada saat mengawinkan. Ketika menarik pedet, jangan menggunakan kekuatan yang berlebihan. Pemberian mineral untuk sapi yang sedang bunting juga direkomendasikan.

Sumber :
The Merck Veterinary Manual (http://www.merckvetmanual.com)
Litbang Kementan. Petunjuk Teknis Penanganan Gangguan Reproduksi pada Sapi Potong
Gambar : http://www.drostproject.org/en_bovrep/images/bv02923.jpg