Kesehatan Hewan untuk Kesejahteraan Manusia

Menjamin kesehatan hewan berarti menjamin kesehatan manusia secara tidak langsung, karena manusia dan hewan adalah dua makhluk yang tak pernah terpisahkan dan saling membutuhkan sejak dahulu kala, kini maupun esok.

Search in This Blog

Selasa, 20 Desember 2011

Orf / Sore Mouth Disease / Contagious Ecthyma / Contagious Pustular Dermatitis

Orf atau Sore Mouth Disease adalah infeksi viral yang disebabkan oleh Poxvirus yang terkait dengan Famili Pseudocowpox dan Bovine Papular Stomatitis Virus.

Virus ini bersifat epitheliotropik, yang berarti bahwa virus ini memiliki affinitas terhadap kulit. Masa inkubasi relatif singkat. Hewan peka biasanya menunjukkan gejala pertama 4 hingga 7 hari setelah terpapar, dimana gejala ini bertahan selama 1 hingga 2 minggu atau mungkin lebih lama. Penyakit ini menyerang domba dan kambing.

Orf merupakan penyakit zoonosis yang berarti bahwa penyakit ini dapat dengan mudah ditularkan dari hewan ke manusia. Orf menginduksi lesi pustular pada kulit kambing, domba dab ruminansia liar di seluruh dunia. Hewan muda paling peka terhadap penyakit ini.

Gejala

Penyakit Orf awalnya berupa papula yang berkembang menjadi lepuh atau pustula sebelum mengerak (encrusting). Lesi ditemukan pada kulit daerah bibir. Lesi-lesi tersebut menyebar di luar dan di dalam mulut, wajah, bibir, telinga, vulva, ambing, scrotum, puting dan kaki, biasanya di daerah interdigitalis. Lesi yang ekstensif pada kaki dapat menyebabkan kelumpuhan pada hewan dewasa maupun hewan muda.

Selama proses penyakit (1 hingga 4 minggu), kerak terkelupas dan jaringan sembuh tanpa timbul luka parut. Kadang, kerak menyimpan bakteri sekunder (seperti Staphylococci) atau mengundang infestasi ektoparasit (larva). 

Penularan 

Virus penyebab Orf ditularkan ke hewan peka melalui kontak langsung. Virus melakukan penetrasi melalui kulit yang abrasi atau luka. Bahkan dengan sedikit luka saja dapat menyebabkan virus masuk. Abrasi yang kadang-kadang disebabkan oleh pakan biasanya menjadi predisposisi terjadinya infeksi. Hewan carrier atau hewan yang telah terinfeksi kronis juga dapat bertindak sebagai reservoir infeksi. Orf dapat disebarkan melalui peralatan, pakan dan litter kandang.

Ketika hewan muda belum pernah terpapar dengan virus ini dan karena sistem imun masih berkembang, maka hewan-hewan muda tersebut paling peka terhadap Orf. Hewan yang sembuh dari infeksi alami memiliki kekebalan terhadap infeksi yang sama. 

Namun terdapat strain Orf yang berbeda-beda, dan dimungkinkan bagi hewan yang pernah terinfeksi untuk terinfeksi kembali. Jika terjadi infeksi ulangan, maka biasanya terjadi beberapa tahun kemudian dan cenderung memiliki tingkat keparahan yang lebih rendah dari infeksi sebelumnya. 

Diagnosis
 
Diagnosis berdasarkan pada sifat dan lokasi lesi, serta riwayat wabah sebelumnya. Diagnosis definitif berdasarkan pada isolasi virus dan uji immunologis. 

Pengobatan

Lesi dapat ditangani dengan pemberian larutan iodine 3 %. Hewan sembuh secara spontan pada kebanyakan kasus. Pada kasus infeksi bakteri sekunder yang akut, penggunaan antibiotik sistemik direkomendasikan. Penting juga untuk mengobati lesi pada puting untuk mencegah perkembangan mastitis. 

Sumber : 
  1. http://www.sheepandgoat.com/articles/soremouth.html
  2. http://www.cdc.gov/ncidod/dvrd/orf_virus/
  3. Lestari, SM. 2010. Orf pada Kambing dan Domba. Publikasi Budidaya Ternak Ruminansia ed. 1 (2010). Direktorat Kesehatan Hewan
  4. Leite-Browning, M. 2008. Contagious Ecthyma (Orf/Sore Mouth) in Sheep and Goats. Alabama A&M and Auburn Universities : Alabamba

Minggu, 04 Desember 2011

Gangguan Reproduksi Sapi : Prolaps Uteri

Tahun-tahun ini sedang digalakkan Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau (PSDSK) 2014. Program Nasional ini bertujuan untuk menjaga ketersediaan daging sapi di Indonesia tanpa ketergantungan dari impor (walupun untuk menjadi swasembada daging, masih tetap impor daging dengan persentase < 10% dari kebutuhan daging nasional).

Berbagai tantangan kemudian muncul di tengah-tengah upaya pencapaian target tersebut. Salah satu yang paling menjadi perhatian dan menjadi dasar bagi keberhasilan Program ini adalah kesehatan reproduksi sapi. Untuk meningkatkan populasi sapi (potong) di Indonesia, diperlukan betina-betina yang produktif dengan kondisi saluran dan organ reproduksi yang normal dan baik.

Salah satu gangguan reproduksi pada sapi yang sering dijumpai di lapangan adalah prolaps uteri. Prolaps uteri adalah keluarnya uterus, vagina dan servik, menggantung keluar melalui vulva (Litbang Deptan). Kondisi ini sering terjadi paling umum pada sapi dan domba (The Merck Veterinary Manual). Pada sapi dan domba, kondisi ini biasanya terlihat pada betina dewasa yang sedang bunting trimester akhir. Faktor predisposisinya termasuk tekanan intra-abdominal yang meningkat, terkait dengan peningkatan ukuran uterus yang berisi fetus, selain itu adanya lemak intra-abdominal, atau distensi rumen yang cenderung berada di atas selama relaksasi dan melemahnya lingkar pelvis serta struktur jaringan lunak terkait di sekitar saluran pelvis dan perineum yang diperantarai meningkatnya konsentrasi estrogen dan relaxin selama kebuntingan akhir. Tekanan intra-abdominal meningkat pada hewan yang rebah (The Merck Veterinary Manual).

Prolaps uteri juga sering terjadi segera atau beberapa jam setelah melahirkan. Kesulitan melahirkan yang menyebabkan iritasi atau kelukaan saluran kelahiran eksternal dan tekanan berlebih yang diberikan ketika menarik pedet dapat menyebabkan juga prolaps uteri. Tonus uteri yang lemah atau masalah nutrisi dengan kadar kalsium darah yang rendah juga dapat meningkatkan kejadian prolaps uteri. 

PENANGANAN
Prolaps uteri adalah situasi gawat darurat, dan sangat penting untuk segera ditangani. Penanganan pertama yang dapat disarankan kepada peternak adalah hewan ditempatkan di kandang dengan kemiringan 5 –15 cm lebih tinggi di bagian belakang. Kemudian dokter hewan atau mantri hewan akan menangani dengan cara organ yang mengalami prolaps dicuci dan di bilas, dan kandung kemih dikosongkan jika perlu. Biasanya, pengosongan dapat dilakukan dengan mengangkat organ yang prolaps untuk memungkinkan urethra menjadi lurus. Secara medis dapat dilakukan dengan reposisi ke posisi semula, irigasi (pemasukan dilanjutkan dengan pengeluaran) menggunakan Iodine Povidone 1%. Setelah semua organ masuk kembali, dilakukan penjahitan pada vulva menggunakan teknik Buhner. 

PENCEGAHAN
Dengan prolaps vagina, sangat penting untuk menjaga kondisi tubuh sapi agar tidak memiliki lemak yang berlebih selama trimester akhir kebuntingan. Jika pedet besar merupakan kemungkinan penyeba prolaps, maka gunakan pejantan dengan berat lahir rendah pada saat mengawinkan. Ketika menarik pedet, jangan menggunakan kekuatan yang berlebihan. Pemberian mineral untuk sapi yang sedang bunting juga direkomendasikan.

Sumber :
The Merck Veterinary Manual (http://www.merckvetmanual.com)
Litbang Kementan. Petunjuk Teknis Penanganan Gangguan Reproduksi pada Sapi Potong
Gambar : http://www.drostproject.org/en_bovrep/images/bv02923.jpg

Rabu, 30 November 2011

Dermatitis pada Anjing

Salah satu kondisi yang sering terjadi pada anjing adalah dermatitis. Dermatitis adalah keradangan kulit yang menyebabkan iritasi dan gatal yang intensif. Anjing yang menderita dermatitis akan mulai menggaruk-garuk dan menjilat-jilat di daerah tertentu tubuhnya atau mungin seluruh bagian tubuhnya. Dermatitis bisa bersifat sementara atau kronis, yang seringnya menyebabkan gangguan kesehatan yang lain.

Gejala yang paling umum dan sangat non-spesifik adalah gatal-gatal persisten. Banyak kondisi menyebabkan dermatitis dan membuat hewan menggaruk-garuk atau menggigit-gigit dirinya sendiri. Penyebab dermatitis antara lain :
  • infeksi bakteri, jamur, atau parasit
  • seborrhea
  • alergi atau sensitifitas terhadap pakan
  • gigitan lalat (saliva lalat merupakan allergen umum)
  • kontak dengan substansi yang mengiritasi
  • gangguan metabolik dan endokrin
  • reaksi obat; paparan terhadap toksin
  • faktor predisposisi yang spesifik ras
  • kekurangan nutrisi
  • terbakar sinar matahari (sunburn)
  • kanker dapat menyebabkan gatal-gatal yang berlebihan akibat iritasi kulit
Berikut adalah jenis-jenis Dermatitis pada anjing (Anonim, http://www.vetontheweb.co.uk) :

Environmental dermatitis (Dermatitis karena lingkungan)
Pasien dalam kategori ini secara fisik dan nutrisi normal, namun menunjukkan gejala pruritus, rambut rontok dan iritasi kulit. Beberapa anjing sangat sensitif terhadap rumput lapangan. Dan dengan mencocokkan apa yang terlihat pada kulit pasien dengan kemungkinan iritan yang ada di lingkungan, penyebab masalah kulit dapat ditentukan dan penanganan dapat diambil.

Nutritional dermatitis (Dermatitis karena nutrisi)
Banyak dokter hewan dan pemilik hewan mempercayai pernyataan "Lengkap dan Seimbang" pada label pet food. Sayangnya, beberapa anjing (dan kucing) menjalani seluruh kehidupannya di bawah kesehatan optimumnya karena pemilik memberi pakan dengan pakan yang mahal dan merasa aman karena pernyataan tersebut. Beberapa pakan anjing terbuat dari komposisi yang mungkin tidak dapat ditoleransi oleh tubuh, sehingga kadang memberikan perubahan pakan pet food yang mendadak juga dapat menyebabkan iritasi kulit. Maka sebagai pemilik hewan, harus mengerti betul karakter hewan peliharaanya, sehingga memberikan pakan yang sesuai.

Flea bite dermatitis (Dermatitis karena gigitan lalat)
Lalat mampu hidup dimana-mana, namun pemahaman mengenai siklus hidupnya, dimana lalat bersembunyi dalam lingkungan anjing. Paparan dengan lalat yang berlebihan dapat memicu hipersensitifitas terhadap gigitan. Sering dokter hewan dikelirukan dengan alergi, namun ada beberapa contoh klasik Parasitic Dermatitis (flea bites) yang memicu komplikasi Allergic Dermatitis (akibat saliva lalat). 

Sarcoptis dermatitis (kurap/gudik)
Tungau Sarcoptik adalah tungau kecil dan tidak terlihat mata. Tungau ini hanya dapat ditunjukkan dengan kerokan kulit yang dilakukan dokter hewan dan dilihat di bawah mikroskop.

Demodectic mange (kurap karena Demodex)
Tungau Demodektik hidup dan berkembang biak tepat di bawah permukaan kulit di dalam folikel dan kelenjar minyak kulit. Tidak seperti tungau Sarkoptik, tungau Demodektik dapat dilihat pada kerokan kulit yang dilihat di bawah mikroskop. Demodex paling umum terlihat pada anjing muda. Pada anjing dewasa, Demodex sepertinya terkait dengan individu yang stres karena penyakit, nutrisi yang buruk atau gangguan imun. 

Infectious dermatitis (Dermatitis akibat infeksi)
Organisme bakteri dan jamur adalah patogen kulit. Organisme jamur disebut dermatophytes. Salah satu tipe yang disebut Microsporum canis, menyebabkan koreng sirkuler dan non-pruritik, rambut rontok, sering disebut ringworm. 
Dermatitis bakteri jarang terjadi secara spontan. Kulit yang normal memiliki beragam jenis bakteri yang ada setiap saat. Kerusakan kulit akibat parasit akan menyebabkan invasi bakteri dan memicu mekanisme pertahanan.

Allergic dermatitis (Dermatitis karena alergi)
Bahan pakan, serat sintetis dan alami, obat dan produk farmasetik, bahan tanaman dan bahkan debu semua dapat memicu dermatitis alergik.

Pengobatan Dermatitis
Karena dermatitis kemungkinan diakibatkan oleh alergi atau iritan, gaya hidup hewan, intake pakan, dll harus diamati dengan ketat dan didiskusikan antara pemilik dan dokter hewan. Jika dermatitis disebabkan reaksi alergi terhadap gigitan lalat, penanganan harus dilakukan dengan mengusir lalat dari rumah.
Corticosteroid seperti injectable dexamethasone akan membantu meringankan gatal dan radang yang diakibatkan dermatitis, namun pendekatan yang lebih aman dan lebih alami mungkin lebih baik.
Jika area merah sudah terbentuk, harus diobati lebih awal untuk mencegah infeksi. Antibiotik oral, dan pengobatan beberapa hari dengan corticosteroid oral secara normal akan membersihkan area yang terinfeksi

Sumber gambar : http://img.ehowcdn.com/article-page-main/ehow/images/a04/jp/qt/cure-dog-dermatitis-800x800.jpg

Minggu, 27 November 2011

Myasis : Penyakit dengan Tingkat Morbiditas Tinggi

Myasis (belatungan/jawa = singgaten) adalah peradangan jaringan akibat adanya infestasi larva lalat. Penyakit ini dapat menyerang semua hewan, utamanya dan seringnya pada hewan ternak besar karena kondisi lingkungan, kandang dan hewan yang kurang baik. Myasis sering ditemukan pada bagian sekitar mata, mulut, vagina, tanduk yang dipotong, luka kastrasi, pusar hewan yang baru lahir dan tracak. 

Penyebab myasis adalah lalat Chrysomya bezziana yang bersifat parasit obligat. Lalat ini berwarna hijau kebiruan dan tersebar luas di Afrika, subkontinen India, Papua New Guinea, Asia Tenggara termasuk hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Populasi lalat C. bezziana biasanya meningkat pesat pada musim kemarau.

Kejadian myasis selalu diawali dengan adanya luka terbuka. Infestasi larva mula-mula terjadi ketika lalat betina meletakkan telurnya pada daerah kulit hewan yang terluka. Telur akan menetas menjadi larva, selanjutnya larva tersebut bergerak lebih dalam menuju ke jaringan otot sehingga menyebabkan peradangan dan daerah luka semakin lebar. Kondisi ini mengakibatkan tubuh ternak menjadi lemah, nafsu makan menurun dan kadang-kadang demam. Tidak jarang ketika luka dibiarkan lama, maka terjadi pembusukan jaringan dan timbul bau. Bau yang busuk dari luka tersebut mengundang lalat sekunder (C. rufifacies, C. megachepala, Sarcophaga sp) dan lalat tersier (Musca domestica, Fannia anstralis) ikut meletakkan telurnya diluka tersebut. Penyakit ini memiliki tingkat morbiditas tinggi dan tingkat mortalitas yang cukup rendah, namun dapat juga menyebabkan kematian jika menyerang organ vital dan dibiarkan dalam jangka waktu yang lama.



Pengobatan myasis dapat dilakukan berbagai cara. Yang pertama dengan cara dipping (perendaman) menggunakan larutan anti ektoparasit, seperti Ecoflee, dll. Larutan ini dapat digunakan selama 1,5 tahun dan dilaporkan cukup efektif untuk pengendalian penyakit myiasis. Selain itu bisa menggunakan Asuntol, Lezinon, Rifcord 505 dan campuran kapur, bensin serta vaselin. Untuk pengobatan tradisional, sering juga digunakan larutan tembakau dann kapur barus, karena kedua substansi ini bersifat panas sehingga merangsang larva keluar dari dalam.

Di Makassar, terdapat komunitas kelompok ternak yang menggunakan ramuan yang dilaporkan cukup efektif untuk pengobatan myiasis, yaitu campuran dari 50 gr Iodium, 200 ml Alkohol 75% dan 5 ml Ecoflee yang selanjutnya ditambah air hingga 1 liter. Ramuan ini langsung dioleskan pada luka yang mengandung larva sehingga larva keluar dan luka menjadi mengecil. Pengobatan ini dilakukan dua kali dalam seminggu hingga sembuh.

Pencegahan yang paling efektif adalah mengendalikan lalat di kandang hewan. Upaya ini dapat dilakukan dengan melakukan penyemprotan dengan insektisida di sekitar kandang, atau menggunakan bahan-bahan alami untuk mengusir lalat dari lingkungan kandang. Ada informasi yang mengatakan bahwa daun pepaya yang dicincang dan disebar di sekitar kandang dapat mencegah lalat untuk hinggap di kandang, namun teori ini belum dikonfirmasi secara ilmiah karena hanya berdasarkan pengalaman empiris peternak dan tidak salah untuk mencoba metode ini.

Selain itu, perangkap lem dengan umpan hati segar dapat dipasang untuk mengurangi populasi lalat ini. Perangkap dipasang di daerah semak-semak, padang penggembalaan, kebun pisang atau daerah yang banyak ditanami pepohonan karena lalat ini tidak dapat dijumpai di kandang. Teknologi pengendalian myasis telah dikembangkan di BALITVET dan telah dihasilkan pemikat yang efektif untuk menangkap lalat C. bezziana di lapang. Saat ini sedang berlangsung beberapa penelitian untuk mencari obat-obat alternatif myasis yang berbasis pada insektisida botanis (Mindi, Mimba dan Srikaya) dan kontrol biologis (Bacillus thuringiensis).

Rabu, 23 November 2011

Menilik Program Nasional Swasembada Daging Sapi dan Kerbau 2014

Maksud dari pengembangan usaha sapi potong dalam negeri adalah untuk mendayagunakan potensi sumberdaya lokal secara optimal guna memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia. Lebih jauh,  pengembangan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor bakalan dan daging sapi sesuai dengan kerangka pencapaian Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau 2014 yang diterbitkan oleh Kementerian Pertanian RI tahun 2010.

Populasi sapi potong Nasional pada tahun 2009 adalah 12,8 juta ekor dan mengalami kecenderungan mengalami pertumbuhan populasi rata-rata sebesar 5,7 % per tahun dari populasi 10,8 juta ekor pada tahun 2006 (Ditjen Peternakan-Pedoman Pelaksanaan Penyelamatan Sapi Betina Produktif, 2010).

Mengacu pada UU Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan serta blue print  Swasembada Daging Sapi 2014, Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian telah
melaksanakan berbagai program dan kegiatan strategis melalui pola pemberdayaan dan fasilitasi kelembagaan petani peternak sapi potong dalam upaya percepatan pertumbuhan populasi sapi potong dalam negeri, sambil menghilangkan berbagai faktor penghambat laju pertumbuhan populasi sapi potong dalam negeri.

Salah satu faktor penghambat laju pertumbuhan populasi sapi potong di Indonesia adalah pemotongan terhadap sapi betina produktif yang semakin tidak terkendali. Hal ini karena terjadi ketidakseimbangan antara jumlah permintaan dengan persediaan yang ada. Selain itu, adanya desakan kebutuhan ekonomi bagi peternak sehingga sapi betina produktif yang dimilikinya dijual dan berujung di Rumah Potong Hewan (RPH).

Sehubungan dengan hal tersebut, pada tahun 2010 Direktorat Jenderal Peternakan mengalokasikan anggaran APBN untuk memfasilitasi kelompok tani ternak yang potensial di lokasi strategis guna melakukan kegiatan penyelamatan sapi betina produktif yang diperdagangkan dengan tujuan akhir di RPH.

Sapi betina produktif adalah sapi yang melahirkan kurang dari 5 (lima) kali atau berumur dibawah 8 (delapan) tahun, atau sapi betina yang berdasarkan hasil pemeriksaan reproduksi oleh dokter hewan atau petugas teknis yang ditunjuk di bawah penyeliaan dokter hewan dan dinyatakan memiliki organ
reproduksi normal serta dapat berfungsi optimal sebagai sapi induk.

Dalam blue print Swasembada Daging Sapi 2014, berikut beberapa mekanisme yang dijadikan acuan kegiatan :

A. Mekanisme Penyelamatan Sapi Betina Produktif di sektor Hulu
  • Pemeriksaan status reproduksi ternak sapi potong betina produktif
  • Sapi betina produktif yang belum bunting, selanjutnya di IB sampai terjadi kebuntingan.

B. Mekanisme Penyelamatan Sapi Betina Produktif di sektor Hilir (Rumah Potong Hewan)
  • Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sedikitnya ada 16,2 juta ekor populasi sapi dan kerbau di Tanah Air. Hal ini merupakan hasil sensus ternak sapi dan kerbau 1-30 Juni 2011. Berdasarkan perkembangan data olah cepat perhitungan BPS per tanggal 3 Juli 2011 persentase desa yang telah dicacah mencapai 99,4%. Dari itu dihasilkan data jumlah populasi sapi dan kerbau lokal mencapai 16.200.633 ekor.
  • Angka itu terdiri dari jumlah sapi potong 14.367.975 ekor, jumlah sapi perah 566.974 ekor dan jumlah kerbau 1.265.699 ekor. Progres beberapa wilayah yang sudah dilakukan perhitungan yaitu Aceh mencapai 99,7%, NTT sebesar 99,7%, Kaltim sebesar 98,1%, Papua Barat sebesar 99,9% dan Papua 88,4%
Menurut Dirjen Peternakan waktu itu, jika kita bisa memenuhi semua kebutuhuan itu maka kita tidak perlu impor. Tapi dalam aturannya kita bisa menyisakan 10% untuk impor, jadi tidak full 100%. Kalau sudah bisa memnuhi 90% bisa dibilang swasembada.

Rabu, 16 November 2011

Polemik Pelarangan Anjing Trah Pitbull

Tahun 2009 keluar Surat Edaran dari Dirjen Peternakan Departemen Pertanian RI No. 14090/HK.340/F/09.09 perihat Larangan Pengembang-biakan dan Pemasukan Anjing Trah Pittbull di Indonesia. Keluarnya SE ini bagi sebagian kalangan mungkin sungguh menyakitkan (terutama para penggemar anjing Pittbull) karena salah satu hak mereka untuk memelihara anjing yang menjadi kesukaan mereka menjadi terganggu.

Dasar dari keluarnya SE ini adalah bahwa anjing trah Pittbull tidak dikenal oleh Organisasi Anjing Internasional (Federation Cynologique International). Direktorat Jenderal Peternakan berdasarkan Rekomendasi dari PERKIN akhirnya mengeluarkan SE menindaklanjuti fakta yang terjadi di FCI tersebut.

Di dalam SE tersebut, dijelaskan alasan Dirjen Peternakan melarang dikembangbiakkannya anjing Pittbull karena anjing trah ini termasuk anjing pemburu dan mempunyai performens yang ganas/buas sehingga membahayakan manusia. Namun, alasan tersebut dibantah oleh para penggemar anjing Pittbull, bagi mereka perilaku alami anjing ini dapat di 'kamuflase'-kan dengan model pemeliharaan yang baik, bahwa anjing adalah hewan yang dapat dilatih. Dengan kesabaran maka semua jenis anjing, termasuk trah Pittbull dapat bersahabat dengan manusia. Dan sampai saat ini memang belum banyak laporan bahwa terjadi penyerangan anjing Pittbull terhadap manusia.

Selain itu, banyak anjing ras besar yang memiliki bentuk tubuh yang lebih 'menyeramkan' diandingkan dengan Pittbull dengan sifat pemburu dan ganas juga, namun semua juga masih boleh dipelihara di Indonesia. Beberapa mempertanyakan keluarnya Surat Edaran ini, kenapa hanya anjing Pittbull yang dilarang dikembangkan, kenapa anjing lain yang bertubuh ganas tidak dilarang.

Ini menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi kita semua untuk dapat menemukan titik tengah yang bermanfaat bagi semua, tidak ada kepentingan pribadi yang dijadikan acuan.

Jumat, 11 November 2011

Anthrax : Penyakit yang Sangat Menular

Bacillus anthracis
Penyakit anthrax umum disebut sebagai radang limpa, karena hewan yang terserang penyakit ini memiliki gejala patognomonik berupa keradangan pada limpa. Penyakit anthrax bersifat zoonosis, hal ini yang membuat penyakit ini menjadi penyakit strategis. Hampir semua jenis ternak (sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan domba) dapat terinfeksi bakteri anthrax.
Penyakit anthrax disebabkan oleh Bacillus anthracis. Bakteri ini diberantas karena merupakan Soil Bomed Disease (”penyakit dari tanah”). Bacillus anthracis yang berbentuk persegi panjang berderet (bila dilihat dengan mikroskop) seperti gandengan kereta api ini dapat membentuk spora dan dapat hidup berpuluh-­puluh tahun di dalam tanah. Di dalam tubuh penderita, Bacillus anthracis terdapat di dalam darah dan organ-organ dalam terutama limpa. Bakteri ini mudah sekali membentuk spora yang cahan kekeringan dan mumpu hidup lama di tanah yang basah, lembab atau di daerah yang sering tergenang air. Itu sebabnya, ternak yang mati karena anthrax dilarang diseksi (bedah mayat) atau dipotong untuk menghindari Bacillus anthracis berubah menjadi spora dan tersebar ke mana-mana oleh angin, air, serangga dan mencemari tanah. Sekali tanah tercemar spora, maka spora di tanah tersebut sangat berbahaya dan suatu saat dapat menyebabkan penyakitnya muncul kembali. Namun, Bacillus anthracis tidak begitu tahan terhadap suhu tinggi (thermolabil) dan sensitif bermacam desinfektan.

Penularan
Bacillus anthracis tidak menular langsung dari hewan satu ke hewan lain, tapi biasanya masuk ke dalam tubuh hewan bersama makanan, alat kandang atau dari tanah (rumput). Infeksi dari tanah inilah yang dianggap paling penting dan berbahaya, karena biasanya dalam bentul spora.
Spora ini akan tumbuh dan berbiak dalam jaringan tubuh dan menyebar ke seluruh tubuh mengikuti aliran darah. Ternak penderita penyakit anthrax dapat menulari ternak lain, melalui cairan (eksudat) yang keluar dari tubuhnya. Cairan ini kemudian mencemari tanah sekelilingnya dan dapat menjadi sumber untuk munculnya kembali wabah di masa berikutnya. Cara penularan lain, bila ternak penderita sampai dipotong/bedah atau kalau sudah mati sempat termakan burung liar pemakan bangkai, sehingga sporanya dapat mencemari tanah sekitarnya, serta menjadi sulit untuk menghilangkannya.

Gejala
Pada ternak, berdasarkan proses kejadiannya, ada 3 bentuk penyakit anthrax :
·         Per akut
Proses penyakit sangat cepat dan mendadak, serta segera terjadi kematian akibat pendarahan otak. Gejala penyakit anthrax bentuk per akut berupa sesak napas, gemetar, kemudian ternak roboh dan mati. Namun, kadang ternak mati sebelum nampak tanda-tanda. Dan kerap kali diagnosa ditentukan setelah mati, yaitu terjadi pembesaran limpa membengkak 2-4 kali dari ukuran normal.

·         Akut
Gejala awal adalah demam, gelisah, depresi, sukar bernapas, detak jantung cepat (tachicardic) tetapi lemah, kejang dan ternak segera mati, dengan dibarengi keluar cairan berdarah dari lubang ataupun mulut.
Selama penyakitnya berlangsung, demamnya dapat mencapai 41-42 °C, produksi susu menurun drastis. Pada ternak bunting mungkin terjadi keguguran sebelum mati.

·         Kronis
Umumnya terdapat pada babi, tetapi kadang-kadang terjadi juga pada jenis ternak lain.Gejalanya ditandai dengan adanya lepuh-Iepuh lokal yang terbatas pada lidah dan tenggorokan, serta leher bengkak.

Gambar : http://textbookofbacteriology.net/B.anthracis1.jpeg

Rabu, 26 Oktober 2011

Inseminasi Buatan pada Kambing/Domba

Di dunia peternakan, istilah inseminasi Buatan (IB) adalah hal yang biasa. Pada awal tahun 1980-an, teknologi Inseminasi Buatan pada sapi mulai dipopulerkan di Indonesia. Hasilnya dapat dilihat hingga sekarang ini. Saat ini banyak sapi yang dilahirkan dari teknologi ini, bahkan mungkin hingga beberapa generasi. Inseminasi Buatan merupakan generasi kedua dari teknologi reproduksi. Namun, teknologi IB pada ternak kecil masih belum populer hingga saat ini. Dan hal ini memerlukan perubahan perilaku.

Produk pangan yang dihasilkan ternak kambing dan domba daging dan susu. Selama ini, kambing dikembang biakkan secara alami dengan dikawinkan dengan pejantan. Walaupun cara ini efektif, namun ada hal-hal yang membuat cara ini tidak efisien. Sehingga diperlukan upaya meningkatkan efisiensi beternak kambing. Salah satunya dengan teknologi Inseminasi Buatan seperti halnya yang dilakukan pada sapi. Di beberapa daerah sudah mulai dikembangkan teknologi ini, namun di beberapa daerah lain masih belum.

Teknik Inseminasi Buatan pada kambing/domba relatif sama dengan teknik IB pada sapi. Hanya saja untuk gun IB yang digunakan lebih kecil karena menyesuaikan ukuran saluran reproduksi kambing. Untuk straw juga masih terbatas, baik kuantitas maupun jenis kambingnya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang inseminator kambing/domba dalam melakukan inseminasi, yaitu bahwa inseminasi harus dilakukan secara halus; tidak berbuat kasar terhadap ternak, penuh kasih sayang, tidak menyakiti, tidak melukai, buat ternak merasa senyaman mungkin, cara mengangkat kaki belkang harus betul-betul tidak membebani hewannya terlalu berat; lakukan dalam waktu yang cepat. Untuk dapat melayani dengan cepat, semua peralatan telah tersedia, dibarengi dengan ketrampilan dalam melakukan setiap langkah kegiatan tersebut diatas. Hal ini bertujuan untuk tidak terlalu lama memberikan beban tekanan stress pada ternak, karena juga berpengaruh pada kondisi fisiologis, yaitu berjalannya fungsi normal organ-organ tubuh termasuk fisiologi reproduksinya.

Sumber foto : http://foragri.blogsome.com/memproduksi-susu-kambing-pe/